Budaya daerah Bima

Kesenian khas daerah Bima

     Budaya Daerah Bima memang banyak dan sangat beragam jenis, baik dari tarian maupun yang lainnya. Disini saya akan menjelaskan tentang tarian tradisional dari Bima yaitu sebagai berikut ;


Atraksi Ganto


 Tarian ini awalnya berasal dari Sulawesi Selatan dengan nama asli Kuntao. Tetapi di Bima diberi nama Gantao. Atraksi seni yang mirip pencak silat ini berkembang dengan cepat sejak abad ke-16 Masehi. Karena pada saat itu hubungan antara kesultanan Bima dengan Gowa dan Makasar sangat baik. Atraksi ini dapat dikategorikan dalam seni Bela diri (silat), dan dalam setiap gerakan selalu mengikuti aturan musik tradisional Bima (Gendang, Gong, Tawa-tawa dan Sarone). Pada zaman dahulu setiap acara-acara di dalam lingkungan Istana Gantao selalu digelar dan menjadi ajang bertemunya para pendekar dari seluruh pelosok, hingga saat ini Gantao masih tetap lestari detengah-tengah masyarakat Bima dan selalu digelar pada acara sunatan maupun perkawinan).



Tari Wura Bongi Monca
 



Seni budaya tradisional Bima berkembang cukup pesat sejak jaman dahulu yaitu pada saat masa pemerintahan Abdul Kahir Sirajuddin, sultan Bima ke-2. Salah satu dari nama tarian ini adalah selamat dating atau wura bongi monca. Maksud dar iwura bongi monca adalah beras kuning yang di taburkan  pada saat ada tamu istimewa yang dating di wilayah itu.Tarian wura bongi moncabiasanya diadakn pada saat penyambutan tamu baik secara formal maupun informal.
     Pada zaman sekarang, tarian wura bongi monca kini menjadi kebiasaan bagi para warga Bima untuk selamatan, baik dalam acara sunat maupun selamatan buat ibu hamil. Sehingga tarian wura bongi monca menjadi sangat tradisional di daerah Bima.


Rawa Mbojo



Rawa mbojo adalah salah satu seni hiburan masyarakat Bima sejak jaman dulu. Seni ini adalah salah satu media penyampaian pesan dan nasehat yang disuguhkan terutama pada malam hari saat-saat penen sambil memasukkan padi di lumbung. Senandung Rawa Mbojo yang di-iringi gesekan Biola berpadu dengan syair dan pantun yang penuh petuah adalah pelepasan lelah dan pembeli semangat kepada warga yang melakukan aktifitas di tiap-tiap rumah. Sebagai selingan, dihadirkan pula seorang pawang cerita yang membawakan dongeng-dongeng yang menarik dan penuh makna kehidupan.
     Syair dan senandung Rawa Mbojo didominasi pantun khas Bima yang berisi nasehat dan petuah, kadang pula jenaka dan menggelitik. Ini adalah sebuah warisan budaya tutur yang tak ternilai unuk generasi. Dalam Rawa Mbojo terdapat beragam lirik yang dikenal dengan istilah Ntoro. Ada Ntoko Tambora, Ntoko Lopi Penge, dan Ntoko lainnya. Tiap Ntoko memiliki khas masing-masing. Misalnya Ntoko Tambora dilantunkan dalam syair dan irama yang mengambarkan kemegahan alam. Ntoko Lopi Penge mengambarkan suasana laut dan gelombang. Syair dan pantun yang dilantunkan pun dikemukakan secara spontan sesuai keadaan. Itulah kelebihan dari para pelantun Rawa Mbojo. Meskipun tidak bisa membaca dan menulis, namn mereka sangan pawai melantunkannya secara spontanitas.

     Sekarang rawa mbojo atau bahasa indonesianya lagu bima sudah memodern. Dulu rawa mbojo  diiringi oleh biola, sekarang Rawa Mbojo sudah bisa dimainkan menggunakan gitar atau piano dan lagunya pun sudah dikategorikan seperti lagu pop, hanya saja menggunakan bahsa Bima.

Selain kebudayaan khas Bima yang banyak, masih banyaklagi kebudayaan yang lain lagi dari Daerah Bima. Yang paling dominan juga adalah makanan khas daerah Bima yang sangatenak dan menggoyang lidah. tapi disini saya hanya menjelaskan tentang budaya khas Bima 

daftar pustaka : klik disini


 


  

Komentar